Selasa, 21 Juli 2020

ENAM HURUF AJAIB

Kuliah ke 22 malam ini disampaikan oleh Akbar Zainudin dengan bahasan utama tentang”Langkah langkah menulis buku”. Berprofesi sebagai  pengajar, mengajar di berbagai lembaga sebagai trainer. Terkadang mengajar di sekolah, pesantren, perguruan tinggi, instansi pemerintah, dan juga swasta. Materi yang saya kuasai berkisar pada motivasi; motivasi belajar, motivasi menulis, motivasi bekerja, motivasi mengajar, motivasi berwira usaha, dan motivasi hidup. Pada  menulis buku yang pertama yaitu, "Man Jadda Wajada". Dari situ  bergerak lebih jauh mengembangkan  menjadi buku dan materi pelatihan.


Ada Enam langkah yang sudah diringkas materinya menjadi singkatan TOJTRP ( 6 huruf ajaib kata moderator ) yaitu Tema, Outline, Jadwal, Tulis, Revisi, Penerbit.

1.    Langkah pertama adalah T. Tentukan TEMA tulisan. Setiap buku harus punya tema besar, baik buku fiksi maupun non fiksi. Tema akan menjadi rel yang mengikat kita dari awal tulisan hingga akhir. Tema ini satu saja. Misalnya kerja keras, romantisme, cara belajar, dan sebagainya. Menurut bapak Akbar karena tema terkait branding maka sebaiknya  untuk fokus menulis satu tema tertentu, agar kita dikenal ahli dalam tema tersebut. Kalau temanya berubah-ubah, nanti orang bingung, kita ini sebenarnya ahli dalam bidang apa

2.       Langkah kedua adalah O. Buatlah OUTLINE atau Daftar isi. Gunanya outline:

a.       Agar tulisan kita terarah.

b.      Bisa buat jadwal dan target.

c.       Menghindari "ngeblank" pada saat menulis.

d.      Agar bukunya selesai.

Kalau tidak ada daftar isi, akan sulit bukunya bisa selesai. Inilah salah satu hal penting yang sering diabaikan orang. Merasa sudah tahu apa yang ditulis, akhirnya tidak ada outline dan langsung menulis. Akibatnya, tulisannya tidak terarah, “melenceng” dan “lari” ke mana-mana, tidak tahu jalan akhirnya. Bukunya akan selesai? Tentu tidak. Banyak ide itu bagus, tetapi yang jauh lebih bagus adalah ide yang difokuskan. Cara memfokuskan ide adalah dengan membuat outline. Bagaimana Cara Mengembangkan Daftar Isi (outline) tetap menerapkan prinsip 5W dan 1 H.

Alur Cerita. Gambarkan alur cerita dari awal hingga akhir. Potongan ceritanya seperti apa. Di mana akan membangun cerita emosionalnya, di mana sedihnya, di mana senangnya. Terus ending cerita seperti apa, apakah happy ending, sad ending, dan sebagainya.Membuat outline ini bisa langsung dituliskan outlinenya atau bisa dengan beberapa alat bantu. Biasanya digunakan mindmap untuk membantu membuat daftar isi. Hal ini harus dikerjakan agar ada rel ke mana tulisan kita, biar selalu ada arah kalau kita menemui jalan buntu, dan ini yang paling penting; bisa membuat jadwal agar buku cepat selesai.

Buku lain yang ingin dibedah daftar isinya adalah buku "Ketika Sukses Berawal dari Pesantren". Target buku ini adalah para santri, umur SMP dan SMA.

Karena itu, buku ini harus sederhana, ringan, bisa dibaca oleh pembaca dalam rentang umur tersebut, dan tetap bobot isinya tinggi. Maka mulai dengan cara yang sama; menguraikan WHAT, WHY, dan HOW.

a.       Apa itu sukses.

b.       Apakah bisa anak pesantren itu sukses?

c.        Kisah-kisah sukses alumni pesantren.

d.      Sukses itu apa menurut pesantren?

e.       Bagaimana caranya agar kita sukses?

f.        Apa yang harus kita lakukan mulai dari sekarang?

Dari poin-poin itu dijabarkan lebih detail lagi menjadi daftar isi yang cukup lengkap. Daftar isi ini lalu dituliskan satu per satu, maka jadilah buku "Ketika Sukses Berawal dari Pesantren".Buku ini alhamdulillah sekarang sudah terjual lebih dari 25.000 eksemplar di seluruh Indonesia

 

Satu lagi, buku saya yang saya khususkan untuk panduan menulis buku, judulnya "UKTUB: Panduan Lengkap Menulis Buku dalam 180 Hari".Buku ini merupakan rangkuman best practices sebagai penulis sekaligus motivator handal yang ingin ditularkan kepada kita semua.

Rahasia bapak Akbar Zainudin menjadi penulis sukses terangkum lengkap dalam buku ini. Semua pertanyaan dan keingintahuan tentang dunia penulisan, perbukuan, dan penerbitan dijawab secara lengkap dan jelas di buku ini. Jika Anda serius mempraktikkan isi buku ini, dijamin Anda akan menjadi penulis sukses hanya dalam 180 hari!"Judul buku ini sangat tepat karena semangat Iqra’! (Bacalah!) sebaiknya diikuti dengan Uktub! (Tulislah!). Bacalah buku senior saya di Gontor ini, untuk belajar kiat-kiat menulis, dari proses menangkap ide sampai menerbitkan buku yang bagus dan laris" Saya bagi buku UKTUB ini dalam beberapa bagian besar yaitu Sikap Mental, Motif Menulis, Mencari Ide, Apa yang Ditulis, Bagaimana Menulis, Mengenal Pembaca, Mengenal Penerbit.

1.      Langkah ketiga adalah J. Buatlah JADWAL penulisan.Kalau daftar isi sudah dibuat, misalnya ada 30 judul artikel atau plot cerita, mulailah membuat jadwal secara riil. Katakan 1 tulisan jadwalnya seminggu selesai, buatlah jadwalnya dari 30 tulisan itu kapan mau selesai.  Dengan kita membuat jadwal, maka akan memudahkan kita untuk mengontrol dan mengevaluasi dari hasil tulisan kita.

Cara membuat jadwal

3.1. Buatlah tabel dengan 4 kolom, yang berisi No-Judul Artikel-Target Lama Menulis-Tanggal-Keterangan

3.2. Isi Nomer

3.3. Isi Judul Artikel

3.4. Perkirakan Berapa Lama (Berapa Hari) Artikel akan Ditulis

3.5. Buat sesuai dengan tanggal yang ada saat ini.

3.6. Isi Keterangan dengan apakah sudah selesai ditulis atau belum.

Jadwal menulis ini menentukan. Kalau ada jadwal, kita bisa mengacu pada jadwal tersebut dan bisa mendisiplinkan diri sendiri. Karena kita tahu di mana akhirnya, kapan draft naskah kita akan selesai. Kalau tidak ada jadwal, kita tidak pernah tahu perkiraan draft naskah kita kapan selesai.

2.      Langkah keempat adalah T. TULISKAN. Outline sudah ada, jadwal juga sudah ada. Berikutnya adalah tuliskan sesuai outline dan jadwalnya. Di sini, disiplin diri dan komitmen yang akan menentukan apakah tulisan kita akan selesai atau tidak. Tulis dan selesaikan semua judul artikel terlebih dahulu. Jangan terpaku untuk satu tulisan sampai sempurna.

3.      Langkah kelima adalah R,  REVISI. Revisilah tulisan kalau semua draft tulisan sudah selesai. Jangan terpaku hanya satu judul sampai sempurna. Kalau kurang-kurang sedikit, tidak apa-apa. Tahap pertama adalah menyelesaikan semua draft buku. Tahap kedua, baru revisi. Apa saja yang perlu  direvisi yaitu data dan informasi yang kurang,

tata bahasa, gaya tulisan disamakan dari awal hingga akhir serta yang terakhir adalah

judul artikel buatlah judul-judul yang menarik.

4.      Langkah keenam adalah P kirim ke PENERBIT.

Apa yang menjadi pertimbangan penerbit?

Paling utama adalah bukunya laku atau tidak. Ini menyangkut kebutuhan masyarakat pembaca. Apakah pembaca butuh buku kita, Siapa yang butuh, Berapa banyak orang yang butuh, Buku kita menjawab kebutuhan apa, Semakin besar kebutuhan masyarakat akan buku kita, maka peluang diterbitkan semakin besar.

            Karena itu, sebagai penulis kita mesti memahami buku kita siapa yang akan beli, dan siapa yang kira-kira akan baca. Hal kedua adalah apa yang bisa membedakan buku kita dari buku sejenis. Apa kelebihan kita dibandingkan dengan buku sejenis. Kita harus mampu menjawab pertanyaan ini. Karena hal itu yang akan menjadi pertanyaan dan juga pertimbangan penerbit. Ketiga, pertanyaan penerbit adalah, apa yang akan Anda lakukan untuk membantu pemasaran buku. Harus punya jawabannya. Misalnya iklan di Medsos, Seminar, Pelatihan, Diskusi Buku, Membangun Komunitas, Dan Sebagainya.

            Apakah perlu membayar kepada penerbit? Kita tidak perlu membayar ke penerbit. Bahkan kita mendapatkan uang ROYALTI. Rata-rata royalti adalah 10% dari buku yang terjual.

            Bagaimana cara mengirim naskah. Naskah harus sudah jadi. Diprint, dikirim dengan hard copy dan soft copy dalam bentuk CD atau Flash Disk. Kabar diterima atau tidak sekitar 3 bulan.

            Dalam sesi tanya jawab terdapat tambahan ilmu mengenai sumber inspirasi pada sebuah buku. Kisaran inspirasi berasal dari pengalaman pribadi antara 30 – 60 persen namun bisa jadi 80 persen jika menuliskan novel dari kisah nyata. Maka sebagai penulis harus memiliki pengalaman yang cukup beragam untuk dapat menginspirasi hal ini melatih kepekaan hati dan pikir yang dapat menambahkan rasa dan karsa dalam sebuah tulisan. 

            Terungkap pula bagaimana membatasi dan menghilangkan keraguan atas tema yang dipilih. Maka yang paling penting untuk mengatasi semua itu adalah pilihlah tema yang kita senangi dan kita kuasai sehingga tidak akan memunculkan kekhawatiran seperti sudah ada yang menulis, menemui jalan buntu, tidak ada refernsi dan tidak menarik.Kalaupun tidak kita kuasai sekarang, kalau kita senangi kita akan mau bekerja keras mencari bahan-bahan yang bisa buat kita tulis. Apakah ke perpustakaan, mencari di internet, bertanya dengan para ahli, dan sebagainya. Tentukan saja temanya, buat kerangkanya, dan mulailah menulis. Ketakutan-ketakutan itu seringkali hanya ada pada pikiran kita.

  Untuk menjaga  menjaga konsistensi supaya tidak kehabisan ide menurut bapak Akbar Zainudin adalah :

1.      Banyak baca buku.

2.       Latihan menulis setiap hari. Jadwalkan setiap hari menulis 15 menit saja. Disiplin. Nanti akan terlatih untuk bisa menuliskan berbagai ide secara baik.

3.      Ikut seminar dan pelatihan.

4.       Upload tulisan di blog dan medsos.

5.      Punya mentor menulis.

            Terbersit tanya dalam ragu diri mengapa harus menulis dengan usia yang sudah tidak muda lagi. Tidak ada kegiatan yang langsung berkaitan dengan kemampuan mempertahankan otak kita selain membaca dan menulis. Menulis adalah tentang kebahagiaan. Kalau kita tumpahkan semuanya dalam tulisan, indah sekali hidup ini. Menulis buku itu warisan terbaik kita. Di situ kita bisa cerita apa saja. Harapan kita, "unek-unek" perasaan kita. Bebas saja menulisnya. Menulis adalah tentang berbagi kebaikan. Jika kebaikan itu bisa dibagi, terus menerus dibaca orang, kebaikan itu akan terus menjadi pahala, bahkan kalau nanti kita sudah tiada. Menulis itu membuat kita lebih sehat. Kita setiap hari bangun dengan semangat baru, ada target baru yang harus kita selesaikan. Apalagi yang menyenangkan hidup kita selain bersemangat setiap hari. Tidak ada kata terlambat segera mulai kalau sekarang mulai tidak ada kata terlambat.

            Materi ini sangat menginspirasi khususnya saya yang tergolong tidak muda lagi difaktor usia. Itulah maanfat kita berkomunitas dalam kegiatan belajar menulis bersama Om Jay untuk saling memberikan semangat sehingga kegiatan dan hambatan menulis selalu dapat solusi terbaik sehingga umur tidak menghambat produktivitas kita dalam menulis.

           

 

 


10 komentar: