Selasa, 09 Juni 2020

PERMOHONAN MAAF SANG GURU


Nilai Rapor, Senyum dan Air Mata
Ketika pengumuman kelulusan itu tiba
Orang tua dan anak-anak tersenyum bahagia
Sebab satu tahap telah terlewati bersama
Lulus, satu kata itu kini telah digenggamannya
Tapi, itu mungkin kebahagiaan sesaat saja.
Perjalanan panjang telah menanti di depan mata
Melanjutkan sekolah, itulah yang pertama
PPDB akan menjadi penentu nasib mereka
PPDB akan melahirkan senyum bahagia dan air mata
Mereka yang lulus akan melonjak, berteriak riang gembira
Tapi, mereka yang belum beruntung akan bermuram muka, berlinang air mata
Terasa diri begitu kecewa karena belum mampu membuat bahagia orang tua
Siapa sangka nilai rapor itu kini “mengadili” nasib mereka
Siapa bilang nilai akademik itu tidak penentu masa depan anak bangsa
Kini, nilai rapor itu akan berbuah bahagia dan juga luka
Siapa yang tahu betapa perih dan kecewanya hati mereka yang gagal karenanya
Haruskah mereka menyalahkan sekolah yang terlalu rendah KKM nya?
Ataukah mereka harus menyalahkan guru yang terlalu pelit memberi nilai?
Ataukah mereka harus menyalahkan guru sekolah lain yang terlalu mengobral nilai?
Ataukah mereka harus menyalahkan “sistem” yang membuat nilai setiap sekolah beragam?
Ataukah mereka harus menyalahkan Corona yang membuat UN dibatalkan?
Ataukah mereka harus menyalahkan diri sendiri yang belum maksimal belajar?
Ataukah mereka justru harus menyalahkan takdir Tuhan?
Sudahlah Nak…!
Tidak perlu kita saling menyalahkan
Mungkin inilah saatnya kita bersama untuk introspeksi diri
Membuka cakrawala yang lebih luas, menakar yang lebih bijak
Agar mimpimu tak lagi tenggelam di telan zaman.
Maafkan kami, bila engkau kecewa.
                                  Padang, 5 Juni 2020
                          Junaidi ( Gupres Nasional 2014 )               
                                 Kepala SMPN 5 Padang

     Garesan puisi sahabatku guru berpresasi tingkat nasional 2014 sangat menyentuh relung hatiku yang terdalam. Menyayat namun masih diiringi dengan rasa yang berat untuk menentukan nilai rapor yang harus dicetak saat keadaan pandemi seperti saat ini. Tak terbayangkan proses yang dilalui hingga nilai raport ini  bisa tergores dengan sebuah niat memberikan keadilan untuk semua peserta didik.
    Teringat peserta didik yang malas bahkan sangat malas hingga absensi kehadiran di sekolah dinyatakan dengan warna merahpun haris mendapat nilai yang layak demi kondisi pandemi ini. Tak tahu apa yang disangkakan menepis semua perbedaan nilai yang ada dengan sebuah alasan pandemi. Tak apalah kata bijak saat ini untuk sebuah penciptaan nilai yang membantu peserta didik. Karena sebuah keterbatasan semua harus ditanggung agar nilai ini berkeadilan untuk semua.
     Bukan tak pandai merasa namun ada yang serasa tak ikhlas mengingat terdapat  ketidak harmonisan antara peserta didik yang malas dan peserta didik yang rajin. Namun sekali lagi dengan alasan pandemi untuk yang malaspun harus diberikan suntikan pertolongan untuk dapat melewati nilai yang kritis yang akan mengakibatkan peserta didik akan tinggal kelas.
     Begitulah serasa tidak bisa diungkapkan bagaimana guru memendam iba saat proses belajar yang selalu tidak menjadi prioritas. Saat tugas daring berlangsung banyak peserta didik dengan seribu satu alasan untuk bisa menghindari tugas tugas yang menjadi kewajibannya.       
     Bukan bermaksud mencari salah siapa atas keadaan ini, namun disadari atau tidak penentuan nilai disaat pandemi ini begitu menyulitkan guru untuk tetap berbuat bijaksana dan adil terhadap peserta didik. Maka jika suatu saat ada yang dikecewakan dengan nilai yang sudah tertoreh saya selaku pembuat nilai meminta maaf. Namun yang terpenting adalah anak anakku harus mengevaluasi diri mengapa nilai yang terorehkan seperti itu. Semoga ibu selaku guru kalian bisa berbuat adil dalam penentuan nilai ini dan anak anakku akan berbahagia dengan nilai yang didapat. Aamiin                                                                                          
                                                                                Mataram Selasa 9 Juni 2020
                                                                                Nanik Yuliani (Gupres Nasional 2014)
                                                                                 Guru SMP N 9 Mataram

Tidak ada komentar:

Posting Komentar