Kamis, 11 Februari 2021

Biru Lautku Air mataku

                                                                  Biru Lautku Air mataku

    Pagi ini libur nasional bertepatan dengan hari raya Imlek 2021. Pandemi masih kita alami dengan segala informasi yang tak kalah menghebohkan dan nyaris mencemaskan. Sepertinya kita harus pandai mengolah pikir dan rasa kita terhadap hal hal yang membuat imunitas kita akan merosot. Kebugaran harus tercipta dengan langkah yang nyata serta dengan hal hal yang sederhana. Keadaan itulah yang didamba oleh semua orang.

    Menjelang pagi hari hujan turun tidak terlalu lebat namun membuat pagi ini menjadi segar dan jalan sedikit basah. Masih tersisa air yang tergenang dibeberapa sisi ruas jalan yang terlewati menuju pantai. Jalanan sangat lengang mungkin orang agak malas meninggalkan peraduan dengan kondisi seperti ini.

    Bersama cucu dan anak, menantu juga bundaku kita bersemangat olah raga pagi itu dengan rute menuju pantai terdekat dengan tempat tinggal kami. Cucu didorong ayahnya menggunakan sepeda kecilnya dan yang lain berjalan kaki. Menuju pantai dengan niatan pulangnya akan menggunakan moda trasportasi Cidomo untuk mengenalkan pada cucu kendaraan tradisional di daerah kami. 

    Sesampai dipantai alangkah terkejutnya melihat kondisi pantai dengan deburan ombak yang ramah dan pasirnya yang halus, ternyata dipenuhi dengan sampah yang sebagian adalah sampah rumah tangga yang terbuat dari plastik


    Timbul rasa heran dan bertanya, sampah yang berada di pantai setelah hujan turun itu berasal dari mana?. Apakah ulah manusia atau alam yang tidak bersahabat pada manusia. Kucoba bertanya dalam hati apakah aku ikut adil dalam mengotori ciptaan Allah yang indah ini? Pastinya sampah yang ada di pantai itu adalah sampah dari limbah rumah tangga. Terbersit dalam pikiran pastilah kalau sampah dibuang dengan baik menurut aturan hal ini tidak akan terjadi.

 Ternyata sebuah survei menyebut sebagian besar sampah  plastik yang mengotari pantai tersebut  sumbernya dari darat. Artinya itu sampah kita sendiri yang dibuang di got, masuk sungai, lalu berakhir di lautan. Inilah yang menjadi jawaban atas tanya dalam hati. 

    Marilah kita lebih bijaksana dalam membuang sampah dan kita harus memiliki kepedulian yang besar tentang lautan kita yang indah. Siapa yang menjaga anugerah Allah yang indah ini kalau bukan kita umatNya. Syukuri apa yang sudah Allah berikan hamparan laut yang biru dengan deburan ombak yang sangat cantik serta pasir yang lembut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar