Tampilkan postingan dengan label KEGIATAN LIBUR SEMESTER GANJIL 2020. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KEGIATAN LIBUR SEMESTER GANJIL 2020. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Desember 2020

WEBINAR P2BIF

                         WEBINAR P2BIF

        Pagi setelah olah raga pagi segera berbenah dan mandi untuk persiapan sholat dhuha dan akan mengikuti kegiatan webinar P2BIF  yang diadakan oleh P2BPF Jawa Tengah.

    
        P2BIF merupakan Perhimpunan Pendidik Biologi Indonesia Folia. P2BIF terdapat tingkat nasional maupun di setiap propinsi untuk kali ini penyelenggara webinar adalah P2BIF cabang Jawa tengah. Tema webinar pagi ini adalah STEM AT HOME. 
        Kegiatan webinar kali ini sungguh sangat menarik materinya untuk saya karena saya belum memahami betul tentang STEM. Pemateri tunggal yaitu ibu dosen UNS yang disampaikan denganlugas dan sangat jelas.
        WEBINAR STEM MASA PANDEMI COVID 19 merupakan titik tekan untuk membuat alternatif PJJ tidak membosankan dan bisa dijadikan alternatif untuk memcahkan kebosanan peserta didik di masa pandemi ini. Meski tidak mudah untuk mendesainnya karena merupakan gabungan beberapa disiplin ilmu dalam arti harus terkelola dalam sebuah team work yang cukup solid. Perlu sebuah tekad yang kuat untuk memulainya.
        Banyak negara telah mencoba pola ini bahkan di Jepang murid kelas 3 SD sudah terbiasa dengan STEM ini. Tingkat keberhasilan dalam menciptakan peserta didik kreatif dan kritis telah teruji dalam berbagai penelitian oleh para ahli.
        Tidak diragukan lagi STEM perlu dicoba diterapkan untuk mengurangi kebosanan peserta didik di masa pendemi ini. Sangat menarik adalah prinsip prinsip STEM adalah kegiatan didasarkan atas problem solving yang ada di sekitar kita, dengan penyelesaian  projek base learning dengan langkah langkah yang mudah dan murah.
        Serasa tidak mudah makanya kita butuh kerja sama dengan beberapa teman sejawat untuk membuat program ini. pesan  ibu nara sumber program yang dibuat harus jelas dan tepat serta menjadi sesuatu yang dibutuhkan di masyarakat atau kata anak anak disebutnya kekinian sehingga memiliki daya tarik tersendiri bagi para peserta didik. Maka dengan tekad yang kuat menyambut pembelajaran di semester genap nanti akan mencoba memilih materi yang sesuai untuk dibuat STEM dengan merancang kegiatan yang menarik agar PJJ semakin berwarna kalaupun kembali harus PJJ.

    



Rabu, 23 Desember 2020

NASIB SUNGAI KITA

                   NASIB SUNGAI KITA

        Hari keempat libur ini tetap kuawali dengan jalan jalan pagi untuk meningkatkan imun dan mejernihkan pikiran untuk mendapat inspirasi dalam menulis. Jalanan masih basah dan dibeberapa bagian masih ada yang tergenang air namun segarnya udara dapat terasa begitu menembus dan mengikuti saluran pernapasan. Terasa lega dan ada yang mengatakan plong. Rasa syukur menyeruak dalam hati Allah masih mempertemukan dengan pagi yang indah dan begitu luar biasa.
        Kutapaki jalan dengan semangat terasa lebih sepi dari hari kemarin tidak ada bocah bocah yang bergerombol mengayuh sepeda ataupun saling berkejaran. Makin semangat kukayuh langkahku untuk menempuh rute jalan pagi hari ini.
        Diujung pertigaan didekat jembatan ada sebuah gereja yang biasanya sepi jika kulewati namun pagi ini nampak geliat aktifitas dari beberapa orang yang tergolong tidak muda lagi. Kucoba meneoleh sejenak pada mereka nampaknya sedang mempersiapkan keperluan untuk kebaktian nanti malam yaitu malam Natal 25 Desembaer 2020.
        Kulanjut perjalananku kepercepat langkah  agar metabolisme tubuh meningkat sehingga mampu menghasilkan keringat. Meski sedikit terengah engah usahaku berhasil juga untuk berkeringat. Setelah kurasa cukup kecepatan langkahkupun kukurangi untuk proses pendinginan.
        Saat kumelintasi jembatan dan menatap air yang mengalir di sungai yang airnya agak deras karena beberapa saat yang lalu turun hujan. Sedih rasanya melihat sungaiku yang airnya bercampur sampah. Bahkan banyak sampah yang nyangkut ditepian sungai sehingga nampak sangat kotor. Padahal ditepian sungai banyak keramba ikan yang dimiliki oleh para warga yang tinggal di sepanjang sungai tersebut.
        Terpikir olehku ini semua sebanarnya salah siapa, sering kita lihat budaya masyarakat kita membuang sampah dengan sengaja ke sungai adalah hal yang biasa saja. Hati kecilku berkata apakah aku selaku seorang pendidik ikut andil dalam kesalahan tersebut karena tidak mengedukasi murid untuk tidak membuang sampah di sungai. Kembali kucoba membuka pikiran seingat saya tidak hanti hentinya saya mengedukasi mereka tentang hal itu. Apalagi sejak diluncurkannya program Zero Waste oleh bapak gubernur di akhir 2019 yang lalu saya bahkan sangat gencar untuk memerangi sampah. Hingga kita perlakukan sampah menjadi barang yang masih mempunyai nilai ekonomi.
        Sudahlah tidak perlu dilanjut mencari siapa yang salah marilah kita bersama sama saling membahu mensukseskan program Zero Waste dengan langkah nyata dan mampu dirasakan oleh masyarakat luas. Sukses selalu untuk program Zero Waste. Jadikanlah sungai menjadi mata air kita bukan menjadi air mata kita karena banyaknya sampah yang dibuang ke sungai.

Selasa, 22 Desember 2020

JALUR YANG TIDAK BIASA

                   JALUR YANG TIDAK BIASA

        Warna langit masih membiru sang surya masih malu malu menambahkan kecantikannya pada langit, terasa udara sangat segar ku ayun langkahku bersama ibundaku tersayang untuk menambah kebugaran dengan berjalan santai. Hari ketiga libur ini ingin kuambil rute yang tidak terlaalu jauh namun dapat menabah semangat ibunda untuk mengikuti perjalanan dengan santai. 
        Pada awal perjalanan di sudat pengkolan jalan keluar dari komplek rumah kami tampak pedagang nasi bungkus daun pisang namanya ramai sekali dan banyak polisi berseragam namun dengan beberapa kuda yanng ditunggangi, sempat terpikir ada peristiwa  apakah gerangan. Namun dari beberapa orang yang berbicara terdengar bahwa para polisi sedang melatih pasukan berkuda sedang melintas dan beberapa ada yang mampir beli sarapan nasi bungkus daun pisang.
        Pemandangan yang tidak biasa polisi berkendara kuda di jalan raya. Banyak sekali anak anak kecil yang sedang bersepeda juga sedang menikmati libur sekolah  menyaksikan dengan wajah yang terkagum kagum. Terdengar celoteh mereka membandingkan tinggi kuda sebagai bentuk kegagahan sang kuda dan kekuatan sang kuda jika diadu lari pikir mereka. Mereka meperbincangkan tinggi badannya, warna tubuhnya hingga panjang pendek rambut si kuda. 
        Kutinggalkan mereka untuk menghindari kerumunan dengan kekagumannya serta celoteh lucunya. Kucoba mencari rute untuk jalan jalan pagi ini kearah yang belum pernah kusinggahi meski tidak jauh dari komplek rumah kami.Tiga blok dari gang rumah kami memasuki gang yang sediit sempit, ternyata disana kutemui sentra pemotongan ayam. Memang pernah ibu ibu komplek bercerita namun baru sekarang bisa melihat secara langsung.
        Ternyata di daerah ini geliat aktifitas telah dimulai dari hari masih gelap dengan memotong ayam untuk dijual ke pasar pasar seputar komplek kami. Ternyata tanpa sengaja saya bertemu dngan penjual ayam yang biasa saya beli ayamnya di pasar komplek kami. Untung saat itu membawa uang sekedar isi kantong sehingga membeli ayam satu kilo untuk kami masak. Teringat baru membeli  alat masak yang baru kami beli lewat belanja online. Siap untuk diciba,  inilah alat masak yang dimaksud.

        Alhamdulillah alat mudah dioperasikan untuk membuat menu ayam bakar sebagai teman bersantap pagi. Tidak terlalu lama untuk menunggu matang dan jadilah ayam bakar pedas manis favorit keluarga. Inilah tampilan hasil ayam bakar pedas manis
         Nikmat sehat adalah karunia yang tiada tara rasanya karena masih bisa memakan apapun yang diinginkan meski tentu saja makanan yang berdampak bagi kesehatan adalah yang selalu diutamakan. Proses memasak ini juga salah satu upaya untuk menuju lebih sehat, karena ternyata alat masak ini mampu mengurangi lemak pada makanan seperti pada ayam dengan prosentase penurunan kadar lemak yang cukup besar. Alhamdulillah... sekarang kita sarapan dulu.

Senin, 21 Desember 2020

AWAL LIBUR SEMESTER GANJIL 2020

                     Pandemi belum berlalu

        Tidak terasa saat libur semester telah tiba dipenghujung tahun 2020. Keadaan tidak banyak berubah pandemipun belun berlalu bahkan cenderung membangun kecemasan yang makin membumbung. Mulai dari perubahan diberlakukannya perubahan terhadap rapid untuk perjalan yaitu dari rapid antibody menjadi rapid antigen membuat buyar angan angan untuk melakukan perjalanan. Selain itu juga banyaknya informasi yang berseliweran di sosial media tentang vaksin covid 19 yang belum diketahui kejelasannya. Selain itu juga berita tentang keadaan negari ini tak kalah mencengangkan dan membuat miris dan prihatin mulai dari korupsi oleh para menteri hingga tindakan semena mena aparat terhadap anggota FPI. 
        Itulah kegalauan yang sedang terasa berat dalam pikiran dalam menikmati libur semester kali ini. Namun untuk membanguan pikiran yang positif agar daya tahan tubuh bisa terkawal dengan baik maka harus mencoba merenda makna dalam waktu yang telah tersedia untuk mencoba menikmatinya.
        Pagi ini diawali dengan jalan pagi 30 menit dengan protokol covid memutari komplek rumah kami yang dibagian tertentu masih terdapat lahan kosong berupa sawah. Pagi itu sawah baru selesai di panen aroma jerami basah terguyur air hujan semalam sangat khas mengharumkan udara pagi itu. 
        Rasa syukur yang tiada henti menyeruak dalam hati Allah masih memberikan kesempatan menikmati keindahan alam yang nampak anggun dan terbalut kesempurnaan. Dalam perjalanan kembali matahari mulai mengintp dengan menebar merah cantiknya yang sangat memikat mata untuk menikmatinya. Ya Allah anugrahmu begitu sempurna untuk dinikmati dan tentunya disyukuri.
        Dalam perjalanan pulang bertemu dengan beberapa tetangga yang juga melakukan aktifitas yang sama. Sudah cukup lama kami tidak melakukan aktifitas warga seperti arisan warga maupun pengajian rutin warga karena adanya pandemi. Terasa kerinduan untuk bercengkerama dengan para tetangga namun kita selalu dibatasi oleh protokol kesehatan. Inikah yang namanya tatanan kehidupan baru itulah tafsir yang muncul dalam sanubari.
        Sepanjang perjalanan pulang bagai membisu mencari jawaban dari segala rupa kejadian yang terjadi beberapa saat sembari joging ringan ala emak emak yang sudah tidak muda lagi. Seakan kehilangan silaturakhim dengan sesama kehangatan dan keakaraban sirna sudah. Sedih menggelayuti hati ini, terbayang kapankah semua ini akan berlalu. 
        Tak terasa sudah dekat dengan rumah, karena asyiknya meladeni rasa yang terbersit dalam pikiran sampai lupa untuk membeli margerine sebagai olesan untuk membuat roti bakar sebagai teman minum teh manis sembari menunggu keringnya keringat untuk mandi dan bersiap sholat dhuha.